RIBUAN NASABAH MENJERIT: Kelumpuhan Massal Sistem Bank bjb Syariah Berhari-hari, Lumpuhkan Ekonomi Warga dan UMKM

Ilustrasi kantor pusat bank bjb syariah (ist)

​HALONESIA.ID — Krisis keandalan sistem digital melanda PT Bank bjb Syariah (bjbs). Selama beberapa hari berturut-turut, ribuan nasabah di berbagai daerah dibuat kelimpungan akibat kelumpuhan total pada seluruh lini pelayanan finansial, mulai dari jaringan mobile banking (m-banking) hingga mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
​Dampak dari down sistem yang berkepanjangan ini terbukti masif dan destruktif bagi perputaran ekonomi harian masyarakat. Jika semula keluhan mencuat dari sektor pendidikan—seperti kalangan dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung yang terhambat dalam urusan domestik kampus—kini efek domino luapan kekecewaan telah menyebar luas ke sektor riil yang jauh lebih krusial.

​Efek Domino: Gaji Tertahan hingga UMKM Macet

​Kelumpuhan layanan perbankan ini menyandera hak-hak finansial nasabah umum. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengaku kehilangan omzet akibat gagal menerima transfer modal dan pembayaran dari mitra usaha.
​Kondisi diperparah bagi para karyawan swasta dan buruh yang kesulitan mencairkan gaji untuk kebutuhan mendesak, hingga para ibu rumah tangga yang terpaksa gigit jari karena tidak bisa menarik uang tunai demi membeli bahan pangan logistik harian.

​Hingga Selasa malam (19/5/2026) pukul 16.30 WIB, denyut nadi sistem digital dan fisik bank berpelat merah tersebut dilaporkan masih mati total tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
​Amarah Nasabah di Lapangan
​Antrean panjang yang berujung kekecewaan terlihat di sejumlah titik ATM, salah satunya di kawasan Jalan AH Nasution, Bandung. Nasabah yang datang dengan harapan bisa melakukan penarikan darurat terpaksa pulang dengan tangan hampa.

​”Gimana sih, bjbs ini kan milik pemerintah, di bawah BUMD daerah, seharusnya bisa lebih profesional dan punya mitigasi yang matang dalam melayani masyarakat. Ini malah merugikan rakyat kecil secara luas karena eror dibiarkan sampai berhari-hari tanpa ada kejelasan!” sergah salah seorang nasabah umum yang enggan disebutkan namanya dengan raut wajah gusar, Selasa (19/5/2026).

​Nasabah tersebut menambahkan, ketergantungan masyarakat modern terhadap akses finansial sangat tinggi. Menurutnya, manajemen tidak boleh berlindung di balik alasan “gangguan teknis” jika durasinya sudah melewati batas wajar.

“Harus cepat tanggap dan tangkas dong. Buktikan kalau bank berlabel pelat merah itu bisa diandalkan. Kalau terus-terusan lumpuh tanpa kepastian begini, reputasi bank yang dipertaruhkan, dan nasabah yang menanggung ruginya,” gerutunya sebelum berbalik arah meninggalkan area ATM.

Manajemen Memilih Bungkam
​Ironisnya, di tengah kepanikan dan gelombang protes nasabah yang kian memanas di media sosial maupun di dunia nyata, pihak otoritas bank terkesan tidak siap menghadapi krisis komunikasi.

​Hingga berita ini diturunkan, jajaran manajemen Bank bjb Syariah masih memilih bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan resmi, rilis publik, ataupun permohonan maaf terbuka yang menjelaskan akar masalah serta estimasi waktu pemulihan (recovery time objective) sistem secara transparan kepada publik.

Editor: Editor