HALONESIA.ID – Pemprov Sumatera Barat (Sumbar) melalui Dinas Pendidikan (Disdik) menginstruksikan penyesuaian kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berada di wilayah terdampak bencana.
Keputusan itu dilakukan menyusul fenomena cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir yang memicu bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumbar yang berdampak ke berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Pada bulan ini, para murid di tingkat sekolah dasar hingga menengah menghadapi ujian semester. Kondisi ini disikapi Disdik Sumbar dengan kebijakan di fase tanggap darurat.
Sebab, bencana yang terjadi telah berdampak langsung kepada para murid maupun guru serta infrastruktur atau fasilitas pendidikan yang ada.
Kepala Disdik Sumbar, Habibul Fuadi menyampaikan, pihaknya telah menginstruksikan kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I-VIII untuk meninjau ulang dan menyesuaikan jadwal pelaksanaan ujian semester ganjil tahun pelajaran 2025/26.
Pihak Disdik Sumbar, juga mengharapkan adanya laporan data dampak bencana ini harus sudah diterima paling lambat hari ini, Senin, 1 Desember 2025.
Kebijakan tersebut menindaklanjuti adanya penetapan status tanggap darurat bencana yang ditetapkan pemerintah provinsi.
BACA JUGA: Update Dampak Bencana Alam di Sumatera: 174 Meninggal, 79 Hilang dan 12 Luka-luka
Berdasarkan Keputusan Gubernur Sumbar, terhitung 25 November hingga 8 Desember 2025, serta mempertimbangkan surat edaran tentang penyesuaian kegiatan pembelajaran di satuan Pendidikan.
“Saat ini siswa diliburkan sampai 3 Desember 2025,” kata Habibul Fuadi dikutip dari keterangan pers, Senin, 1 Desember 2025.
“Surat edaran sudah diterbitkan dua kali yang pertama diedarkan pada 27 November 2025 yang berisi kegiatan belajar mengajar diliburkan pada 28 sampai 30 November 2025.”
“Lalu diperpanjang pada surat edaran kedua di 30 November 2025 yang berisi libur 1 hingga 3 Desember 2025,” ujarnya.
Data sementara mencatat sejumlah sekolah masih difungsikan sebagai pos pengungsian, seperti SD 41 Lori, SDN 02 Cupak Tangah dan SMPN 29 Padang dan beberapa fasilitas pendidikan yang tersebar di Sumbar.
Selain itu, anak-anak dan guru turut mengungsi akibat bencana yang menerjang 13 kabupaten dan kota di Sumbar.
Data guru dan tenaga kependidikan yang teridentifikasi di Kabupaten Agam tercatat meninggal dunia 3 orang, luka-luka 4 orang dan hilang 5 orang.
Sebanyak 96 unit fasilitas Pendidikan terdampak maupun rusak, dengan tingkat ringan hingga berat, di kabupaten ini.***








