Kuota ke TPA Sarimukti Dibatasi, Pemkot Bandung Target Olah 500 Ton Sampah per Hari

sampah pemkot bandung
Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Pemkot Bandung. (Diskominfo Kota Bandung)

HALONESIA.ID – Tantangan besar tengah dihadapi Pemkot Bandung akibat pembatasan kuota sampah ke TPA Sarimukti.

Dari total 1.500 ton sampah yang dihasilkan warga setiap hari, hanya 981 ton yang dapat dikirim ke TPA, sementara sisanya harus dikelola di dalam kota.

Kesenjangan ini menjadi beban nyata, sebab kapasitas pengolahan kota saat ini baru mampu menangani 300 ton per hari.

Artinya, masih ada “pekerjaan rumah” sebesar 200 ton sampah yang berisiko menumpuk jika tidak segera ditangani.

Menyikapi hal ini, Wali Kota Muhammad Farhan menyatakan bahwa tidak ada solusi tunggal untuk masalah sampah.

Farhan mendorong penggunaan berbagai teknologi yang fleksibel, terutama untuk mengolah sampah organik seperti sisa makanan yang mendominasi timbulan sampah kota.

“Tidak mungkin hanya satu teknologi menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Karena itu, kami memanfaatkan beragam pendekatan, terutama untuk sampah organik yang volumenya sangat besar,” ujar Farhan.

Strategi pertama yang ditempuh Pemkot Bandung adalah penguatan aspek kelembagaan dan regulasi.

Mulai dari payung hukum undang-undang hingga peraturan wali kota, seluruh perangkat kebijakan telah disiapkan sebagai dasar pengelolaan sampah terpadu.

BACA JUGA: Ribuan Pasukan Oranye Diterjunkan untuk Tangani Sampah yang Terbawa Arus Banjir di Jakarta

Langkah kedua adalah pembenahan infrastruktur dasar, seperti optimalisasi Tempat Penampungan Sementara (TPS), armada pengangkut, akses jalan, hingga penguatan sumber daya manusia pengelola sampah.

Salah satu contoh pengelolaan berbasis masyarakat terlihat di TPS 3R4 Rakomala yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Fasilitas dibangun pemerintah, sementara operasional dan pengelolaan sehari-hari dilakukan oleh warga setempat.

Model ini dinilai menjadi kunci keberhasilan karena mendorong rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Namun hingga kini, baru sekitar 30 persen atau sekitar 500 RW di Kota Bandung yang memiliki sistem pengolahan sampah mandiri.

Dari jumlah tersebut, total pengolahan masih kurang dari 40 ton per hari jauh dari kebutuhan 500 ton yang harus diselesaikan di dalam kota.

Untuk mempercepat pengelolaan di tingkat akar rumput, Pemkot Bandung meluncurkan program “Gaslah” (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).

Program ini menempatkan satu petugas di setiap RW yang bertugas mengedukasi dan memastikan warga memilah sampah dari sumbernya.

Petugas ini akan mendatangi rumah-rumah warga dan mengingatkan pentingnya pemilahan sampah. Ke depan, program ini direncanakan diperkuat hingga level RT guna menjangkau lebih banyak rumah tangga.