AMS Sebut Klarifikasi Resbobb Usai Hina Orang Sunda karena Panik, Minta Proses Hukum Tetap Jalan

Resbobb Sunda
Adimas Firdaus alias Resbobb.

HALONESIA.ID – Pj Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS), Rully H Alfiady, menegaskan, bahwa pernyataan seorang content creator, Adimas Firdaus alias Resbobb yang menghina etnis Sunda bukan persoalan sepele.

Rully menekankan, bahwa ucapan tersebut berpotensi memicu persoalan SARA yang lebih luas dan tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa.

“Sunda itu etnis terbesar kedua di Indonesia. Jadi bukan kelompok minor yang gampang dijadikan objek lelucon tanpa konsekuensi,” ujar Rully dikutip dari keterangan pers yang diterima Halonesia, Jumat, 12 Desember 2025.

Ia menyebut, jika pelaku belum memahami risiko pernyataannya, “Maka proses ini harus menjadi pelajaran berharga, meskipun melalui jalur hukum.”

Rully mengatakan AMS menghargai adanya klarifikasi dari pihak content creator, namun ia menilai klarifikasi itu, lebih muncul karena tekanan publik ketimbang kesadaran pribadi.

“Kami melihat klarifikasi itu muncul karena panik. Bukan karena memahami kesalahan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa karena alasan tersebut, proses hukum tetap perlu berjalan. Menurutnya, langkah itu bukan untuk memperpanjang masalah, tetapi memberi edukasi bahwa ruang digital memiliki etika dan konsekuensi.

BACA JUGA: Ke Bandung, Jangan Lupa Melipir ke Roti Segar, Dijamin Bikin Nagih

“Ini bukan tentang menghukum secara berlebihan. Tapi soal tanggung jawab, yang tidak otomatis hilang hanya karena seseorang terbiasa membuat konten spontan,” jelasnya.

Dalam pernyataannya, AMS mengingatkan bahwa masyarakat Sunda selama ini memilih bersikap sabar dan tidak reaktif saat martabat atau nilai luhur karuhun mereka terganggu. Namun, Rully mengingatkan agar sikap itu tidak ditafsirkan sebagai kelemahan.

“Kesantunan bukan berarti tidak mampu. Kesabaran bukan berarti tidak peduli,” tegasnya.

Rully kemudian mengimbau seluruh masyarakat agar menjaga situasi tetap kondusif dan memberi ruang bagi aparat penegak hukum menyelesaikan perkara tersebut.

“Keberagaman Indonesia membutuhkan rasa hormat. Bukan sekadar wacana toleransi yang baru muncul setelah ada masalah,” ujarnya.

Menutup keterangannya, Rully mengutip amanat Prabu Siliwangi dari Wangsit Siliwangi yang menjadi dasar bagi AMS menyikapi peristiwa ini.

“Gupayan ku katresna, sugan nu ingkar daek eling daek mulang. Jeung upama panggupay aranjeun teu dicumponan, kami nyaho yen leungeun aranjeun bisa di kuakieukeun: bisa diusapkeun bisa dipeureupkeun!”

(Ajaklah dengan penuh rasa kasih, agar yang berbuat ingkar menyadari dan segera kembali. Dan bila ajakan kalian tidak dipenuhi, Kami tahu bahwa sesungguhnya tangan kalian bisa digunakan untuk mengusap dan bisa untuk memukul!).***