HALONESIA.ID – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bertindak tegas merespons keluhan warga terkait proyek galian kabel udara yang memicu kemacetan dan mengabaikan aspek keselamatan.
Farhan menginstruksikan PT BII dan Diskominfo untuk segera menyerahkan lini masa kerja yang transparan.
Ia menekankan bahwa setiap titik proyek wajib memiliki kepastian jadwal, mulai dari tahap penggalian hingga pengaspalan kembali jalan secara sempurna.
“Ketika galian dimulai, harus jelas kapan selesainya dan kapan ditutupnya. Timeline itu wajib diinformasikan ke media dan masyarakat supaya warga punya ekspektasi,” tegas Farhan, di Kelurahan Maleer, pada Selasa, 24 Februari 2026.
Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi kunci agar masyarakat tidak merasa dibiarkan dalam ketidakpastian.
Dengan adanya batas waktu yang disampaikan secara terbuka, warga dapat memahami jika terjadi kemacetan sementara dan mengetahui kapan kondisi akan kembali normal.
BACA JUGA: Kuota ke TPA Sarimukti Dibatasi, Pemkot Bandung Target Olah 500 Ton Sampah per Hari
Tak hanya soal jadwal, Farhan juga mengumumkan akan melakukan audit ulang terhadap standar keselamatan proyek galian.
Ia menilai ada yang perlu dievaluasi dalam penanganan pencegahan kecelakaan di lapangan.
“Digali itu kan menghalangi jalan. Pertanyaannya, bagaimana memastikan pengguna jalan tetap aman sebelum perbaikan selesai? Ini yang akan kami audit ulang,” ujarnya.
Langkah ini diambil setelah adanya insiden yang diduga berkaitan dengan lubang galian. Farhan menyoroti pelaksanaan teknis para kontraktor yang dinilai belum seragam dalam menerapkan standar pengamanan.
Terkait kekhawatiran warga soal lubang galian, Farhan memastikan seluruh titik akan ditutup kembali dengan sistem penutup permanen (mainhole) yang dapat dibuka-tutup sesuai kebutuhan perawatan jaringan.
Ia mengakui, secara desain sistem tersebut terlihat baik, namun implementasinya di lapangan membutuhkan pengawasan ketat.
“Desainnya bagus, tapi pelaksanaannya memang tidak semudah itu. Karena kontraktornya saya lihat belum seragam cara kerjanya,” katanya.
Farhan juga menjelaskan tantangan dalam menyelaraskan proyek galian kabel dengan program perbaikan jalan. Jika dilakukan bersamaan, dikhawatirkan terjadi saling menunggu antara pekerjaan jaringan dan pengaspalan ulang.
BACA JUGA: Kronologi Operasi Penyelamatan Belasan Warga Jabar yang Jadi Korban TPPO di NTT
“Kalau langsung ditempelkan dengan perbaikan jalan bisa tunggu-tungguan. Kabel belum selesai, jalan belum bisa dibereskan. Ini memang pilihan berat, tapi harus kita jalankan,” ungkapnya.








